Sabtu, 18 Juli 2015

Pidato Menyongsong Bonus Demografi dan Ketenagakerjaan

Wahyu E.N.Repi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNSRAT
Kategori Dewasa
Menyongsong Bonus Demografi dan Ketenagakerjaan
Asslm.wr.wb
Salam sejaterah bagi kita semua,
Syaloom
dan selamat siang…

Yang terhormat Kepala BKKBN perwakilan provinsi Sulawesi Utara.
Yang saya hormati seluruh dewan juri, yang nantinya akan menimbang sama berat serta mengukur sama tinggi.
Dan yang saya cintai dan banggakan seluruh generasi muda bangsa Indonesia selaku teman-teman perjuangan saya…


Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita mengucapkan puja dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena walaupun seluruh pepohonan dijadikan kertas dan seluruh air laut dijadikan tinta maka niscaya tetap tak bisa menuliskan jumlah kenikmatan yang diberikanNya kepada kita. Dialah yang telah ada sebelum kata ada itu ada dan tetap akan ada walaupun kata ada itu telah tiada.
Dikesempatan yang berbahagia ini izinkanlah saya untuk membawahkan pidato dengan judul “menyongsong bonus demograsi dan ketenagakerjaan Indonesia”.

Sebelumnya apa itu demografi? Menurut George Barclay, demografi adalah gambaran menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika, berupa tingkah laku keseluruhan, bukan perorangan. Dan apa yang dimaksud bonus demografi? Bonus demografi penduduk adalah kelebihan jumlah penduduk produktif dibanding penduduk tak produktif. Sekarang Apa maknanya bagi Indonesia?

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang berjumlah 305,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat 28,6 persen dari tahun 2010 yang sebesar 237,6 juta jiwa.

Berdasarkan paparan Surya Chandra, anggota DPR Komisi IX, dalam Seminar masalah kependudukan di Indonesia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun ). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara nonproduktif hanya 60 juta. Itulah yang dimaksud bonus demografi yang akan dimiliki Indonesia.

Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah satunya adalah menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif.

Namun apakah hal ini semudah angka dan proyeksi yang saya sampaikan? Apakah hal ini akan menjadi solusi bagi bangsa Indonesia?

Saat ini kita memiliki masalah, menurut Asian Productivity Organization (APO) mencatat, dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia pada tahun 2012, hanya ada sekitar 4,3% tenaga kerja yang terampil. Jumlah itu kalah jauh dibandingkan dengan Filipina yang mencapai 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7% .

Pendiri bangsa Indonesia Soekarno mengatakan, “berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangan dunia”. Pemuda yang dimaksud tentu pemuda produktif. Sayangnya peningkatan jumlah tenaga kerja itu belum mendapat jaminan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja.

Oleh karena itu saya mengusung beberapa solusi, yakni:
1.      Peningkatan Wajib Belajar 12 tahun
Ini agar kualitas pendidikan formal Indonesia tidak ketinggalan jauh, dan ini merupakan kewajiban bagi pemerintah dalam memenuhi hak pendidikan warga Negara.
2.      Perbaikan Mentalitas
Kita harus membuat mental anak muda menjadi mental pemenang, mereka yang mampu dan mau bersaing dengan tenaga kerja luar. Apalagi dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN mau tidak mau,suka tidak suka maka hambatan tarif dan non tarif perlahan menghilang.
3.      Perlu adanya Grand Desain
Indonesia perlu memiliki rancangan pembangunan nasional jangka panjang dengan kelebihan jumlah angkatan kerja yang ada.

Sang maestro Leonardo Da Vinci saja tak mampu menggambarkan indahnya Indonesia. Sedangkan Leodarno De Caprio mengatakan bahwa kebijakan pemerintah harus sesuai dengan bentuk geografis yang ada. Bagaimana agar pemuda yang dekat laut bisa menjadi nelayang yang efektif dan efisien, bagaimana pemuda dekat daerah pertanian bisa menjadi petani yang sukses.

Akhir kata terimalah salam perjuangan dari saya. MERDEKA!
Wassalammualaikum.Wr.Wb

Syaloom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar