Senin, 18 Januari 2016

Katakanlah!

Katakanlah!

Saat ini banyak orang yang menganggap bahwa diam dan langsung bekerja adalah baik. “Dari pada banyak omong terus tidak melakukan sesuatu” terbersit dihati sebagian orang. Menyangkut mimpi, saya tidak setuju dengan hal ini. Bagi saya mimpi itu harus dikatakan, dikatakan, dan dikatakan. Sebab jika kita tidak mengatakan atau membicarakan mimpi kita pada orang lain, maka saat itu juga orang lain tak punya ukuran apakah mimpi kita kelak sudah berhasil atau tidak.


Kelak nanti ketika kita sudah mencapai mimpi yang telah lama diidamkan, orang disekitar hanya akan diam dan memberikan selamat formalitas bagi kita. Tapi sebaliknya manakalah mimpi atau cita yang kita harapkan telah diketahui orang banyak sebelum mimpi itu tercapai. Yang terjadi adalah BOOOOOM!!!! Kisah kita akan menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mengenal kita.

Lah, gimana kalau mimpi kita tidak tercapai? Bukankah malu yang kita dapat? Hmmmmm…. Malu? Malu yang bagaimana akan kita dapatkan? Apakah saat ini masih ada orang yang mau menertawakan pribadi yang gagal meraih mimpinya saat kita tau orang tersebut telah mati-matian mengeluarkan energi, biaya, waktu bahkan darah untuk mencapainya? Saya rasa orang pun akan tetap mengacungi jempol pada pribadi yang telah berjuang mati-matian untuk mencapai mimpinya.

Belum percaya? Coba liat gambar pahlawan Indonesia, seberapa banyak mereka yang gagal? Seperti Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang akhirnya diasingkan oleh penjajah saat itu. You see? Mereka gagal bukan? Bahkan akhirnya harus meninggal dalam perasingan. Adakah yang mau menertawakan kegagalan mereka? Adakah yang menertawakan mimpi melawan penjajah mereka? Tidak ada yang bisa menertawakan perjuangan mereka, karena kita tahu mereka berjuang dengan darah untuk mimpi mereka.

“Aduh, tetap saya malu mengatakan mimpi saya” kata yang hatinya dilema, cieeee dilema. Hahahaha. Heloooo? Yang ditakutkan apa? Takut diejek orang yang mendengar mimpi kita? Kalau kita diejek saat mengatakannya bukankah kita telah dizolimi alias di-bully? Kalau keadaannya seperti itu bukankah malah jadi percepatan doa kita pada Tuhan? Makin banyak bully makin cepat doa kita langsung ke Tuhan. Nah kalau ada yang tidak mem-bully­ saat mendengarnya pasti mereka ikutan bilang “amiiiiin” #eeeh dapat percepatan doa lagi. Hehehhehe

Liat tuh, kalau mimpi kita diejek malah jadi poin plus kita buat Tuhan, kalau teman kita tidak mengejek dan mendukung eh malah jadi poin plus juga lewat doanya. Waduuuh, jadi dimana ruginya ya? Hehehehhe. Belum lagi ketika kita mengatakan mimpi kita, itu akan menjadi alarm gratis kita loh, teman yang mendengar bisa jadi akan mengingatkan akan mimpi kita saat kita sendiri lupa akan mimpi itu. Hehehehe

Jadi mengatakan mimpi kita ke orang lain itu menjadi usaha percepatan terwujudnya mimpi kita. Masih ragu? Masih mau?

Kalau kita sendiri tidak yakin akan mimpi kita dengan malu mengatakannya, bagaimana orang lain ikut yakin? Tuhan pun ingin melihat usaha menggebu-gebu umatNya.

Oh ia, yang salah itu ketika kita mengatakan mimpi-mimpi kita dengan angkuh, seakan itu semua bisa terwujud hanya dengan usaha sendiri tanpa penyertaan Tuhan dan interaksi dengan manusia lain.

Katakanlah mimpi dengan anggun, bukan dengan obsesi ganas, yakinkan bahwa keberhasilan kita akan berdampak untuk kebaikan. J

***Catatan tambahan pribadi bagi yang tidak ingin melanjutkan membaca tidak apa-apa, hehehehe

Saat masuk kuliah dan menjalani prosesnya, beberapa kali sempat berusaha mengajak teman-teman kelas dan organisasi untuk travelling bersama, mulai dari Makassar, Lombok, Maluku hingga Sumatra. Dan akhirnya itu hanya menjadi wacana, hehehehe Alhamdulillah itu terwujud, bahkan bisa kesana bukan dengan uang pribadi (baca: sponsor, hehehe). makasih untuk teman-teman yang kala itu menolak ya :p
Makassar menyambut

Selong Belanak, Lombok

jam gadang, Sumatra Barat
 
Maluku Utara Provinsi ke 12 yang didatangi
Sejak semester dua saya membagikan kartu nama sebagai pembicara dan motivator, dikelas saya diteriaki (ingat kelas itu dipimpin oleh dosen enci Olivia Sardjono, terima kasih enci atas supportnya waktu itu), terima kasih juga teman-teman yang ikut teriak ya. heheheheh
Kartu nama yang dibuat ketika awal kuliah
Puji Tuhan selama empat tahun di kampus sudah dipercaya untuk mengisi materi disekitar 150 forum (mungkin pesertanya sudah sekitar 9.000 orang) dan MC sekitar 30 event.

Oh ia, sempat juga mengatakan pada teman-teman untuk bisa menjadi Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) UNSRAT agar bisa upacara di Istana saat 17 Agustus, syukur dengan segala keribetan prosedurnya saya tidak sempat mengikuti seleksi. Tapi Tuhan menjawab saat 17 Agustus 2015 dengan cara lainnya (Colek Mas Angga Erlando sang MAWAPRES Universitas Brawijaya yang mengajarkan caranya, ini rahasia kita ya mas wkakakakak). heheheheh
selfie setelah upacara
Intinya sebagain postingan diatas untuk menjawab orang-orang yang ragu ketika saya mengatakan mimpi pribadi kecil ini (dengan berat badan segini bukan kecil juga sih, heheheh). Juga untuk mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang berpengaruh besar dalam hidup ini. Doa kalian membuat Tuhan makin memudahkan kaki ini untuk melangkah.

7 komentar:

  1. Semangat... (y)

    Izin berbagi catatan...
    BAGAIMANA MEMILIH SEBUAH AKTIVITAS ATAU PEKERJAAN? - http://irfanazizi.blogspot.co.id/2015/11/bagaimana-memilih-sebuah-aktivitas-atau.html?m=1

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Jazzakallah kak. semoga hari esok cerah menanti kita ya,,, amiiin

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih, hehehehe semoga mimpi2 kita segera dijawab Allah. amiiiin

      Hapus