Minggu, 28 Agustus 2016

Di antara Singapura dan Malaysia (Seputar MDP)


Kita tahu bahwa Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Dua Negara yang umur kemerdekaannya masih dibawah kita. Namun, dua Negara tersebut per hari ini secara komulatif lebih maju dari kita. Tapi yang ingin dibahas bukan tingkat kemajuan Negara mereka. Yang ingin saya ceritakan adalah tingkat kemajuan anak Indonesia yang belajar disana.

Selama MDP batch 43 Maybank Indonesia saya bertemu dengan dua orang yang agak absurd (jika bertemu pertama kali pastinya kita saling merasakan absurd kan, jangan tersinggung ya). Hehe. Mereka berdua sebut saja Faqih dan Bobby.


Teman pertama saya sekaligus partner dari seleksi area Bandung bernama Faqih Ahmad Muzakky. Pria berdarah biru asli Bandung (baca: hidup dan matinya untuk PERSIB, J) lulusan International Islamic University  of Malaysia (IIUM) ini saya kenal ketika memasuki interview dua. Untung pula ketika selesai interview dua kami sempat bertukar kontak. Sehingga memasuki interview user dan medical check up pun kami bisa komunikasi terlebih dahulu. Berangkat ke Jakarta hingga check in di hotel pun bareng. Alhasil kami menjadi teman sekamar selama ± 3 bulan pendidikan kelas. Tiga bulan bersama Faqih saya mendapatkan banyak kisah menarik. Namun, karena terbatasnya ide utama dalam tulisan ini, untuk sementara yang dicerikan seputar kulitas pendidikannya saja.

Teman kedua dalam cerita ini bernama Bobby Tjandra. Pria berbadan lebar kesamping (baca: tersangka fitness) merupakan lulusan National University of Singapure (NUS). Orang yang saat pembukaan MDP langsung membuka tawanya agak lebar dan tiba-tiba beberapa hari kemudian menjadi cool (baca:jaga wibawa). Ketahuan beliau yang satu ini sempat mau melakukan adaptasi. Hahaha.

IIUM dan NUS? Belum pernah mendengarnya? Yang pasti kedua universitas ini merupakan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di negaranya masing-masing. Tersiar kabar juga kalau NUS adalah kampus nomor wahid (baca: terbaik) di ASEAN. Tersiar kabar? Mau tahu pastinya? Ya googling dong, hahaha
Banyak anak Indonesia kuliah di luar negeri namun berlabuh di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Khusus dua teman ini ternyata melabuhkan hatinya di PTN. Entahlah mereka telah melabuhkan hatinya untuk seseorang atau belum. Yang pasti semoga mereka tidak saling melabuhkan hatinya. Hahaha

Ok. Masuk ke arena serius.

Sejak hari pertama saya jujur langsung mendapatkan tekanan yang tinggi dari dua orang ini secara akademik (teman-teman lain juga memberikan tekanan, namun untuk artikel ini biarlah mereka menjadi bintang terleih dahulu,huhu). Bagaimana tidak, dalam sesi perkenalan saja dua orang ini sudah merepresentasikan PTN terbaik di Negara dan ASEAN. Sementara saya? T.T

Hingga memasuki akhir proses penilaian, terlihat juga dua orang ini menjadi segelintir orang yang tidak pernah merah nilainya. Ya, secara keilmuan mereka memang berasal dari bidang studi yang memperihatinkan. Faqih berasal dari Matematika dan Bobby dari Kimia (agak kasihan dua orang ini telah mendapatkan beban hidup yang tinggi sejak bangku kuliah/ hahaha).

Bobby memiliki gaya belajar individual yang sangat tinggi, ini juga mungkin menjadi representasi tekanan hidup di Singapura. Namun, cara belajarnya terbukti efektif. Diawal kelas dia termasuk orang yang banyak bertanya, terutama untuk istilah-istilah yang baru didengarnya. Namun, semakin lama kelas berjalan dia malah semakin mengetahui istilah-istilah freak dalam dunia ekonomi dan perbankan. Rahasianya ternyata ada di eyang google. Ngakunya dia jarang belajar kalau di rumah. Senjata utamanya adalah konsentrasi belajar saat di kelas. Saya sendiri bisa dibilang percaya dengan pernyataan beliau. Maklum dalam seminggu dia menghabiskan beberapa hari setelah kelas untuk memakan korban lemak (baca: tersangka fitness). Buktinya adalah baju dan sepatu fitness yang dibawanya ke kantor.

Berbeda dengan mahluk homo sosial (baca: plesetan homo sapiens) yang satunya, yaitu bapak pendekar biru Faqih. Beliau dalam berkehidupan seperti karet. Mudah bergaul dengan berbagai lini yang berkaitan dengan MDP. Anak selow dan woles dalam beajar. Namun, yang menyebalkan adalah nilai beliau selalu aman. Hahaha. Di kelas beliau tiba-tiba bisa sangat kalem memperhatikan pemateri, namun tiba-tiba menjadi ganas seperti pengacau.

Dua manusia diatas memiliki kemauan dan tahu kapan harus menyertakan konsentrasi dalam proses belajarnya. Kemampuan dua homo sapiens ini dalam menyerap informasi dan pengetahuan juga tinggi. Yan utama mereka berdua ternyata tidak memiliki kebiasan menyontek. Ya, sebuah kebiasan yang sangat diagung-agungkan Negara barat dan maju. Sementara kita di Indonesia? Hmm jawab sendirilah ya.
bobby tjandra; wahyu repi ; faqih ahmad muzakky


Semoga pembaca bisa mengambil makna dan hikmah yang ada. Jika ada kesempatan ulasan-ulasan pribadi menarik lainnya akan saya lanjutkan.

Kumpulan tulisan seputar MDP Maybank : http://www.wahyurepi.com/2016/12/seleksi-mdp-maybank-seputar-mdp-maybank.html

2 komentar:

  1. tidak semua orang seberuntung anda bisa sampai tahap ini
    memiliki pengalaman luar biasa baik di akademik maupun organisasi dan malah sekarang dalam pekerjaan
    yang saya ingin tahu bagaimana cara lolos tahap interview
    dengan kekurangan tanpa pengalaman organisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mas atau mbak, maklum gak cantumin nama ya, ehhehehe.

      Pertama, saya smpai tahap ini karena menutupi kelemahan2 saya, intinya bukan superman.hahahaha

      Kedua, khusus yg MDP angkatan saya ada yg gak pernah ikut organisasi sekalopun tp biaa lulus. Hehehe karena intinya dalam interview kita hrs meyakinkan kita bisa bergaul dan bisa mengatasi masalah nntinya. Ada yg organisasinya segudang tp blm tntu bisa bergaul dgn baik dan menjadi problem solver yg baik kan. Ceritakanlah keyakinan yg ada utk menjawab kebutuhan perusahaan. Hehehe

      Hapus