Senin, 05 Agustus 2019

Reinforcement Time (Travelling and Teaching 20 Karimun Jawa – bagian Tiga)


Baca dulubagian duanya kalau belum, klik disini

Di Lekker Paimo awalnya kami bertemu dengan Haphap (nama panggilan sebenarnya). Teman lama Intan waktu mengikuti TNT Semarang. Ada juga Milo (nama panggilan sebenarnya) yang ngatur janji bareng Intan tapi datangnya setelah kejadian lucu berikut.

Alkisah kami bertiga (Intan, Uut dan Kim Sun Ho/penulis ini) makan tanpa memperdulikan sekitar, terlalu asik sama Lekker beraneka rasa Paimo kali ya. Haphap datang dan awalnya menyapa wanita yang duduk di ujung kursi lainnya, tidak lama dia langsung menyapa kami. Disitulah aku mengenalnya.


Obrolan terus berjalan sampai akhirnya dia tahu maksud kedatangan kami ke Semarang adalah bagian dari perjalanan menuju Karimun Jawa. Dia kemudian menyapa kembali wanita di ujung kursi yang sempat disapanya terlebih dahulu. Haphap bertanya kemana nantinya wanita itu akan pergi setelah ini. Wanita itu langsung berkata “Mau kembali ke Karimun Jawa”. Lah kami semua sontak terkejut, karena ternyata dia juga memiliki tujuan yang sama. Dan benar adanya, do’i merupakan salah satu perserta rombongan kami. Betapa lucunya ketika sejak awal ternyata kita sudah bertemu dengan orang yang akan menjadi teman seperjalanan tanpa sengaja.

Dan wanita ini bernama Anna Althafunisa, duh ini bukan film Ketika Cinta Bertasbih. Hahaha. Wanita ini bernama Anastasia Shintami Putri yang ternyata sudah kecanduan kegiatan kerelawanan sejak dalam kandungan. Pokoknya ternyata ini cewe udah gak bisa dihitung berapa kali ikutan kegiatan volunteer, yang bahkan udah nyampe di sudut timur dan barat Indonesia.

Sebelum pindah tempat kita foto dulu:
CEKREEEEEK

Sambil menunggu waktu berkumpul dengan pasukan utama, akhirnya kami putuskan untuk pergi ke MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Mau ibadah sekaligus foto aja sih. Kak Ana KCB palsu ikut kita.

Setelah magrib kami akhirnya bertemu dengan dua orang relawan lainnya di tempat ini. Dua orang ini datang dengan muka berwibawa, senyuman tipis kayak artis songong. Kebetulan mereka pria, jadi saya pikir wajar saja muncul dengan wibawa. Kami main sampai ke menara masjid, FYI bahwa menara masjid dibuka ampe malam ya. Tapi sore menjelang magrib mereka tutup terlebih dahulu. Jam 6.30 malam baru lift kembali beroperasi, bayar tiket tapi gak nyampe Rp 10ribu dah.

Oh iya, ternyata dua pria tadi namanya Zul dan Reza. Zul adalah tetua 1000 Guru Samarinda kayaknya, kalau gak salah udah 4 tahun masih mengabdi, tua memang nih orang. Reza sendiri bisa terbilang baru di kegiatan seperti ini, katanya faktor cinta dan hasrat yang membawa dia sampai kesini.


Dan sorry to say, mereka berdua walaupun berkualitas tapi sama-sama bisa sedeng juga kok.
Akhirnya sampailah kami diwaktu berkumpulnya seluruh rombongan secara resmi. Sekitar jam 10 malam di depan Bank Indonesia perwakilan Jawa Tengah.

Yang ingin aku sampaikan di akhir bagian ini adalah hal yang aku suka kalau ikut kegiatan bersama komunitas baru itu ya bertemu dengan banyak orang baru dengan berbagai latar. Baru setengah hari tiba aku udah bertemu dengan sultan minyak, raja pupuk dan profesi lainnya.

Dan mulailah kita dalam agenda Travelling and Teaching 20 1000 Guru Semarang di Karimun Jawa.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar