Sabtu, 11 Maret 2023

Peran Ayah dan Ibu Selaras Fitrah dan Pendidikan Aqil Baligh (KIK-Belajar Jadi Ayah dan Ibu Selaras FItrah-Part 5)


“Eh, kok tumben sih judul tulisan sesuai dengan judul kelas?”


Mohon maaf nih, tapi sesi ini memang banyak teorinya alias memasuki kelas berat.

Tapi sebelum serius kuadrat, ada kalimat dari para Ulama yaitu “Sejatinya Istiqomah bisa lebih hebat dari 1000 Karomah”. Isiqomah sesuai FITRAH yang telah diberikan akan cukup untuk membuat hidup berjalan sampai finish line, dibandingkn orang yang punya banyak kelebihan (Karomah) namun tidak istiqomah. Eaaaaa. Semoga kami para peserta berusaha istiqomah sampai pertemuan ke tujuh nanti, semoga tidak ada halangan syar’i yang membuat langkah kaki kami terhenti. Amiiiiin.

Kelas dimulai dengan membuka pandangan kami tentang REMAJA. Jebeeeeeeer. Begitu diminta untuk menyampaikan pandangan kami tentang remaja, maka yang muncul adalah preferensi negative. Mulai dari darah panas, emosian, narkoba, sex bebas dan sebagainya. Inilah FENOMENA REMAJA.

Restart dan Start (KIK-Belajar Jadi Ayah dan Ibu Selaras FItrah-Part 4)

 Pada pertemuan ke tiga ini kami diajak untuk me-restart diri dan melakukan start yang baru. Kami tidak diminta untuk melakukan install aplikasi yang baru, karena ingat, sesuai pertemuan sebelumnya, manusia sudah memiliki install-an aplikasi yang paling canggih dan mumpuni. Itu adalah FITRAH.

Kita sudah mengetahui, pengertian restart diri adalah kembali pada FITRAH. Namun, bagaimana kah cara melakukan start yang baru? Utamanya, untuk melakukan start yang baik, kita wajib tahu akan finish dimana. Tanpa mengetahui finish line, tentu sehebat apapun kita melakukan start, ujungnya kita akan tersesat kembali.

Banyak pemuda serta orang tua muda yang belum bisa menjawab pertanyaan dibawa ini:

Aku ini apa?

Hidup untuk apa?

Berkeluarga untuk apa?

Apa benar menjadi Ayah?

Apa benar menjadi Ibu?

Jumat, 24 Februari 2023

Sadar Akan Fitrah (KIK-Belajar Jadi Ayah dan Ibu Selaras FItrah-Part 3)

Pada pertemuan pertama kami diajak berpikir gaya Eropa dan kemudian disandingkan dengan gaya Timur Tengah (read: Islam). Dari sini kami tersadar bahwa sebenarnya setiap manusia di muka bumi ini telah diciptakan dengan maksud dan tujuan. Manusia sudah memiliki suatu bawaan identitas jauh sebelum dilahirkan, ini dikenal sebagai fitrah manusia. Pertemuan kedua ini kang Ulum memperdalam konsep fitrah ini.



Di awali dengan pengertian dari Imam Al Ghazali dalam kitab Mizanul Amal menyampaikan bahwa “fitrah adalah suatu sifat dasar manusia yang dibekali sejak lahir dengan memiliki keistimewaan-keistimewaan”. Keistimewaan-keistimewaan yang dimaksud adalah

·         Beriman kepada Allah

·         Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran

·         Dorongan biologis berupa tabiat , syahwat

·         Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat dasar manusia yang dapat dikembangkan dan disempurnakan

Dikelas KIK (Kelas Intensif Keluarga) ini kami juga dikenalkan dengan gerakan “Fitrah World Movement” yang menjadi rujukan sebagian teori dari Sekolah Rumah Tangga. Hasil googling saya sih FITRAH ini punya singkatan yaitu:

·        

Rabu, 22 Februari 2023

Bongkar Konsep Kehidupan (KIK-Belajar Jadi Ayah dan Ibu Selaras FItrah-Part 2)

Pertemuan pertama harusnya menjadi kunci apakah peserta akan antusias untuk rangkaian kegiatan kedepannya atau tidak. Di pertemuan pertama ini yang bertugas memandu acara adalah Kang Purwa ex Broadcaster Radio ternama Bandung, asek. Terlihat memang keseriusan Sekolah Rumah Tangga untuk mengeksekusi kegiatan ini.

Kang Ulum sebagai salah satu promotor mengawali sesi ini dengan mengangkat teori psikologi manusia barat yang sangat populer di kalangan anak muda seperti kami (yakinilah para peserta terutama Wahyu dan Shahnaz masih memiliki wajah anak muda). Titik.

Ada tiga teori besar yang diangkat yaitu Freudian Psychoanalysis, Radical Behaviorism dan Humanistic.

Pertama, Fredian Psychoanalysis (Sigmud Freud 1856-1939).



Teori ini mengatakan bahwa dorongan untuk menggerakan diri manusia berasal dari energi seksual alias libido. Kesadaran pada teori ini tidak terlalu penting, bahkan menganggap manusia beragama bukan karena suatu pilihan tetapi akibat pengalaman traumatis di masa kanak-kanak.

Kedua, Radical Behaviorism (John B Watson 1878-1958).



Pada teori popular ke dua ini, mereka mengatakan bahwa manusia bertindak berdasarkan pengaruh lingkungan fisik, BUKAN karena dorongan insting dan BUKAN juga karena kecenderungan bawaan. Dengan menganalisa unsur fisik eksternal manusia, kita bisa mengetahui sensasi unsur internalnya. Bahasa sederhananya mereka bisa meneliti apa yang diberikan lingkungan fisik yang membuat respon balik dari manusia.

Inti teori ini seperti pepatah yang sering didengarkan oleh parenting konvensional dengan kalimat “manusia itu seperti kertas kosong, menunggu untuk ditulisi berdasarkan pengalaman hidupnya yang dipengaruhi oleh lingkungan eksternal”. Teori ini merujuk dari konsep Tabula Rasa milik John Locke (1632-1704).  Mungkin om John Watson ini cucunya om John Locke, tapi agak aneh juga namanya sama didepan bukan dibelakang. Grrrrrrrr.

Selasa, 21 Februari 2023

Kuliah Jadi Orang Tua (KIK-Belajar Jad Ayah dan Ibu Selaras FItrah-Pengantar)

Memasuki umur Shanum (anak kami) empat bulan memberikan tanda bahwa kami (Wahyu dan Shanaz) sudah memasuki bulan ke 14 sebagai pasangan Suami Istri. Dalam kurun waktu ini ternyata memang tidak mudah untuk saling menyesuaikan diri dengan pasangan kami. Sudah cukup lama saling mengenal dari kejauhan tidak menjamin kita menjadi paling tahu tentang pasangan kita. But we did it , Alhamdulillah dan Bismillah.

 

Sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas diri dan hidup untuk keluarga kami, maka dalam waktu 4 bulan terakhir kami mencari kelas / komunitas untuk belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih ideal terutama sebagai pasangan dan orang tua.