Senin, 06 Oktober 2014

Komitmen Kacau




Syukur saya panjatkan pada Tuhan karena kemarin ketika hari raya Qurban (Idul Adha 1435 H) saya ditegur dengan baik oleh Sang Maha Penyayang. Badan terasa kurang fit namun dengan begitu saya mendapat kesempatan untuk berpikir banyak hal. Mencoba menerawang kembali ternyata saya telah melewati dan menghancurkan banyak kepercayaan orang-orang dengan komitmen yang saya kacaukan sendiri.

Pembaca yang budiman pasti pernah juga merasa bersalah atas sebuah pengharapan yang diberikan orang lain kepada kita dan kita mengacaukannya bukan? Hayoooo ngaku saja keleeez... hehehhe

Dengan nama baik dan kualitas yang kita punya sering membuat orang lain berharap banyak kepada kita. Hal ini memaksa kita untuk membuat komitmen dengan pengharapan orang lain kepada kita. Mau tidak mau kita harus tetap menerima beberapa hal tersebut, mungkin ada hal-hal yang bisa kita tolak namun penolakan kita terhadap setiap komitmen (amanah) tetap ada batasnya.

Senin, 28 Juli 2014

Hidup itu penuh pilihan

Hidup itu penuh pilihan


Sahabat sekalian. Hari ini saya mendapatkan pengalaman lagi. Pengalamannya nyesek juga sebenarnya. Pilihan... setiap manusia diberikan anugrah oleh Tuhan  untuk memilih apa yang akan dilakukannya. Hari ini saya sedang dalam pesawat dengan fasilitas free meals (manakan gratis sih katanya, walaupun sebenarnya harga tiketnya naik karna ada makanan, maklum promosi kan).

Manado: Ramadhan Penuh Warna

Manado :Ramadhan Penuh Warna


Ketika menulis ini saya lagi di pesawat Batik Air menuju Jakarta dari kota Manado. Hmmm... perjalanan tanpa perencanaan panjang, begitulah... awalnya saya pribadi sudah memutuskan untuk lebaran di Manado, namun dengan desakan keluarga akhirnya saya ikutan Mudik (bahasa TV gitu).

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Menghabiskan tiga minggu lebih ranadhan di kita Manado memberikan sehuta warna yang berbeda dari tahun-tahun biasanya. Awalnya ketika sudah mau pergu saya terpikir kenapa perasaan ini janggal untuk meninggalkan kota Tinutuan itu. Apa yang menjadikan warna ramadhan tahun ini berbeda?

Kemenangan Ibadah



Tak terasa ramadhan akan segera pergi meninggalkan kita. Secara umum setelah ramadhan akan terlihat mana yang mendapatkan kemenangan dengan gelar pemenang dengan pembersihan dosa dan akan ada yang menjadi pencundang dengan setumpuk dosa baru selama ramadhan.

"Sungguh jika semua umat manusia dipersilahkan untuk memilih maka kita pasti akan memilih menjadi para pemenang"

Sabtu, 24 Mei 2014

Goresan Untuk Sejarah



Sedih rasanya hari ini (21 Mei 2014) ketika menyadari lebih dari dua bulan saya tak memiliki produktivitas nyata dalam hal wacana dengan bentuk tulisan. Seperti yang kita tau bahwa kita akan menjadi manusia pintar dengan membaca banyak hal, namun itu tak akan membuat kita dikenal dalam sejarah. Untuk bisa dikenang dalam sejarah caranya hanya satu. Jika ada yang bertanya bagaimana? Jawabnya lewat TULISAN!


Apakah semua tokoh yang dikenal sampai hari ini menulis? Tentu tidak, namun mereka ditulis oleh sejarah lewat orang lain. Abad modern saya contohkan seorang Chairul Tanjung lewat buku berjudul “Si Anak Singkong”, buku itu bukan ditulis olehnya, tapi oleh wartawan senior kompas bapak Tjahja Gunawan Diredja (selamat pak bapak juga akan dikenang sejarah lewat tulisan saya, heheheh).


Bahkan nabi besar sekalipun seperti Muhammad, Musa dan Isa bisa dikenang dan memiliki pengikut sampai hari ini karena adanya catatan rekaman kehidupan mereka lewat kitab-kitab yang ada. Apakah mereka menulis? TIDAK! Namun ingat “mereka melakukan sesuatu yang besar agar bisa dicatat sejarah”. Apakah hari ini kita sudah melakukan sesuatu yang besar? Sebagaian dari kita pasti menjawab belum.
Bagaimana dengan kita yang masih muda? Atau walaupun sudah tua namun belum dicatat sejarah? Cara yang paling mudah agar bisa dicatat sejarah adalah lewat tulisan kita sendiri. Lewat tulisan yang kemudian kita sebarkan maka itu akan menjadi buah pemikiran untuk orang lain.

Seorang Raditya Dika, pemuda semi-gila katanya ternyata bisa berhasil lewat tulisan kehidupan pribadinya yang dia tulis di blog kemudian dicetak menjadi buku. Masih malas menulis? Silahkan hilang ditelan zaman (hehehe). @wahyu_presiden